Tommy Tjokro
Cowok kelahiran Braunschweigh, Jerman, 10 Juli 1977 ini cuma tersenyum malu mendengar cerita tersebut. “Waduh, saya kagok kalau disebut-sebut banyak penggemar,” ujar Tommy terkekeh.
beberapa tahun silam, profesi pembaca berita pernah menempati tempat tersendiri dalam dunia pertelevisian Indonesia. Nama-nama seperti Arief Suditomo, Ira Koesno, atau Desi Anwar tak hanya jadi ikon untuk televisi tempat mereka bekerja, tapi juga untuk kategori acara berita secara keseluruhan. Kecerdasan dan karakter yang kuat jadi daya jual utama. Sayang, sekarang belum ada generasi penerus yang menggebrak. Tapi bukan berarti tak ada pembaca berita potensial. Ada beberapa, salah satunya, Tommy Tjokro (29). Kemunculannya tiap hari di acara Metro Siang, Public Corner, News Flash, dan Headline News banyak direspons positif penggemarnya, terutama para cewek. Tak heran, ketika Tommy menghilang untuk dua pekan dari layar kaca, banyak dari mereka yang bertanya. “Banyak surat masuk yang menanyakan keberadaan Tommy,” cerita Audrey, Humas Metro TV yang kebetulan hadir dalam wawancara dengan Tommy, Jumat (13/10) lalu. Cowok kelahiran Braunschweigh, Jerman, 10 Juli 1977 ini cuma tersenyum malu mendengar cerita tersebut. “Waduh, saya kagok kalau disebut-sebut banyak penggemar,” ujar Tommy terkekeh.
Memasuki tahun ketiga kariernya di dunia broadcasting, Tommy lambat laun mulai menemukan arah. “Saya mulai mendapatkan karakter sendiri,” ujarnya mantap. Karakter yang dimaksud, ketenangan dan gaya bahasa santun yang diperlihatkan tiap memandu acara. Tapi Tommy belum puas dengan pencapaiannya. “Saya masih harus banyak belajar. Saya ingin tiap tahun ada peningkatan dalam penampilan saya. Sekarang, meski sudah dua tahun lebih bertugas, kadang saya masih grogi dan melakukan kesalahan,” terang alumnus Central Queensland University, Brisbane, Australia ini.
Meski populer, Tommy mengelak disebut sebagai presenter andalan Metro TV. “Yang lain pun posisinya sama. Saya masih beharap masih ada puncak lain untuk karier saya. Sekarang masih harus belajar menghadapi nara sumber yang levelnya juga berbeda-beda. Itu tantangan tersendiri.” Menurut Tommy, semua pembaca berita punya kelebihan masing-masing. Tapi, Tommy tak menolak kalau termotivasi menjadi penerus Arief Suditomo dkk. Tapi kalau tidak terjadi pun, masih banyak ambisi Tommy yang masih berhubungan dengan dunia pertelevisian. “Selain menjadi anchor, saya pribadi punya ambisi untuk jadi produser sebuah acara. Umur orang untuk muncul di depan layar memang terbatas. Jadi suatu saya saat ingin meng-create satu program dan punya acara sendiri. Targetnya kalau bisa secepatnya, hehehe. Intinya yang penting berusaha saja yang terbaik. Jangan pernah berhenti, jangan jalan di tempat. Apalagi pembaca berita itu sangat tergantung usia,” harap Tommy. Berikut petikan wawancara kami dengan Tommy beberapa menit sebelum masuk studio untuk siarang langsung. *hari
Aktivitas Anda saat bulan puasa?
Sama saja dengan hari-hari biasa. Paling, rutinitasnya yang tadinya padat, sedikit demi sedikit saya kurangi. Tujuannya untuk menjaga kondisi. Jadi biasanya habis buka puasa, saya memilih pulang. Tapi, pada dasarnya Jadwal kami memang nggak pernah tetap. Kadang diubah secara mingguan, kadang dua mingguan.
Apa sih sebenarnya spesialisasi Tommy?
Karena lulusan ekonomi saya tahu lebih banyak di marketing. Waktu melamar ke Metro pun saya mengirim dua aplikasi, reporter dan anchor dan satunya ke marketing. Tapi sebagai pembaca berita, saya harus menguasai banyak topik, dan sejauh ini saya sudah membawakan berbagai jenis acara mulai dari sepakbola, hiburan, politik, dan ekonomi. Boleh dibilang tak kesulitan menguasai topi macam-macam. Lagi pula ‘kan ada pembelajaran lagi dari awal. Anchor itu kan memang harus banyak membaca. Kalau dulu untuk urusan politik saya nggak kritis, sekarang harus benar-benar kritis. Mau nggak mau harus diperbaiki terus. Kalau tadinya nonton berita cuma melihat sekilas-sekilas, sekarang lebih diperhatikan lagi. Untungnya saya suka melakukannya.
Bacaan sehari-sehari apa?
Bacaan pastinya koran, majalah, tabloid, semua yang berbau-bau ekonomi dan politik.
Anchor itu memang harus pintar, ya?
Kalau anchor disebut pintar, ya karena memang pekerjaan menuntuk kami untuk selalu berusaha kelihatan pintar, hehehe. Soal kepintarana tiap orang punya persepsi beda-beda, intinya di bidang jurnalistik ini tidak hanya membacakan tapi juga tahu isi dari berita yang harus kita bawakan. Misalnya ada politik atau konflik, ya, kita harus tahu benar-benar tentang topik itu.
Tapi tampang keren juga modal tersendiri saat baru mulai jadi anchor?
Ada benarnya, tapi yang pasti isi (kepala) tetap haruslah. Kalau tampang doang tapi nggak bisa aplikasi kemampuan kita, sayang. Orang ‘kan ingin melihat karakter kita. Setiap tampil banyak orang akan melihatpintar ataunggaknya seorang pembaca berita. Orang yang bertahan lama di TV, benar-benar orang yang punya kemampuan. Bukan soal pintar atau nggak, tapi mereka benar-benar orang mampu mengapliaksikan dirinya. Kalau ditanya resep untuk tampil oke sih, persiapan danistirahat yang cukup. Kalau siaran ‘kan bahasanya baku, ada standar tersendiri dalam penekanan, fisik harus oke. Waktu kita training kita juga mempelajari olah vokal. Sudah itu, materi sebelum on air, run down, isi berita juga harus tahu.
Apa pengalaman liputan di lapangan menunjang pekerjaan Anda?
Banget. Malah kalau ditanya saya lebih suka kerja di lapangan, karena bisa bertemu orang-orang. Lebih seru dan ramai. Tapi kurang lebih saling menunjanglah. Orang yang bagus di lapangan akan terlihat lebih matang di depan layar. Jadi dalam hal ini saya harus banyak belajar lagi di lapangan, supaya lebih bagus. Sekarang sih kadang-kadang masih turun, tapi nggak sebanyak dulu. Sebagai anchor TV berita, kerjanya harus siapa 24 jam lho. Memang sih kita punya jadwal, shift. Tapi tetap kita harus menerima panggilan kapan saja, kalau ada kejadian urgent seperti dulu ada tsunami.
Banyak yang meremehkan kemampuan anchor saat turun ke daerah berkonflik?
Tapi semua anchor di Metro harus siap. Prinsipnya kapan saja, dikirim ke mana pun siap. Semua karena semua memulai dari di lapangan. Mungkin kita bisa punya pengalaman yang berbeda. Ada yang di Jakarta, ada juga yang sering pergi ke daerah konflik. Seperti misalnya Najwa Shihab. Saya sendiri pernah mendapat tugas ke Aceh, dua minggu pasca tsunami. Tepatnya di Lhokseumawe. Pengalamannya luar biasa, itu pengalaman yang paling saya ingat, ke suatu daerah yang chaos atau hancur seperti itu. Di Jakarta fine-fine saja, ternyata di daerah yang kena bencana itu susah banget.
Siapa yang paling ingin diwawancarai?
Sejauh ini saya pengin banget wawancara presiden SBY. Pasti sangat menantang.
Aktivitas di luar kantor apa saja?
Ngumpul-ngumpul sama teman-teman. Nonton, pasti karena hobi saya nonton.
Olahraga dan perawatan diri, pasti masuk agenda, ya?
Merawat diri, iya. Potong rambut ke salon pasti. Creambath segala macam. Paling itu-itu saja. Olahraga, dulunya nge-gym, main basket, sepakbola, atau squash. Tapi karena rutinitasnya terus bertambah. Saya sendiri lebih senang kegiatan olahraga yang dilakukan bersama teman-teman karena dari situ koordinasi, kerja samannya ada dinilai. Sekaligus untuk refreshing dan sosialisasi.
Benar nggak, sih pembaca berita itu serius?
Kalau teman-teman saya bilang sih, saya konyol banget, suka bercanda. Tapi itu kan di lingkungan terdekat. Ya, kalau dibilang jaim nggaklah ya, jaim kerjaan saja. Toh, kita nggak bisa cewawakan. Intinya, bagaimana kita membawa diri saja. Kalau mau nongkrong bisa juga sih. Yang penting bisa bawa diri dengan baik. Itu kan bukan untuk profesi kita saja, tiap orang pun punya tuntutan yang sama. Bedanya kami harus serius bawa berita jadi kelihatannya lebih ruang gerak kami terbatas.
Pede nggak kalau disebut sama populernya dengan artis atau presenter gosip?
Ini paling susah. Waktu saya baru di dunia ini, ada yang bilang popularitas itu hanya reward dari apa yang kita kerjakan, dan juga merupakan tanggung jawab. Tapi pada intinya sih, mungkin dari diri kita sendiri tidak harus memuja popularitas karena walau bagaimana pun orang ‘kan ada naik turunnya. Popularitas itu hadiah, jangan takaburlah. Manfaatin sebaik mungkin, dengan berupaya sebaik mungkin, jangan lupa diri. Dibilang terkenal? Saya belum merasa seperti itu, ya, hahaha. Malah kalau ada orang yang mengenal saya dan minta tandatangan atau foto bareng saya kadang terkaget-kaget sendiri.
Berniat terjun ke dunia entertainment?
Memang sih banyak ada tawaran wawancara dan bentuk tawaran kerja. Tapi itu semua tetap harus melewati Metro TV. Merekanggak tahu saya ini bukan presenter lepas, tapi karyawan. Kalau dibilang tertarik di dunia seni, karena memang saya suka sekali musik. Dulu sempat main band dan saya jadi vokalisnya. Cuma hobi saja, belum jadi profesi. Kalau someday ditawarin nyanyi, bikin album, belum terpikir. Tapi kalaukalau menyanyi di kawinan teman sih oke-oke saja. Saya memang cukup sering menyanyi di kawinan, hahaha. Main film, sinetron? Pernah juga ada yang menawarkan kasting. Tapi saya tolak. Soalnya saya nggak ke arah sana. Nggak tertarik.
Pernah jadi cowok sampul?
Nggak, dulu saya aktifnya lebih banyak ke olahraga dan musik. Orangtua juga mengarahkan saya untuk fokus ke pendidikan.
Tahu nggak kamu punya banyak penggemar dan sering dibilang berwajah cakep?
Hahaha, biasa-biasa saja. Bukan nggak pede. Ada mungkin yang kenal. Mungkinlebih banyak cewek-cewek. Atau kalau lagi di mal atau cuci mobilada saja yang mengajak ngobrol. Lainnyapaling minta foto, tandatangan. Saya mungkin belum terbiasa dengan semua itu. Sejauh ini sih nggak ada yang aneh-aneh paling ada yang mengirim surat dan mengirim foto.
Sering ditanya urusan pribadi? Dengar-dengar baru menikah?
Saya tidak menutup-nutupi.Kalau penggemar tahu saya sudah married, ya, nggak apa-apa. Mungkin saya menghindari ditanya kehidupan pribadi kalau pertanyaannya terlalu detail. Nggak harus semua dijawab. Tapi istri saya sih pasti mengerti karena dia sudah tahu pekerjaan saya seperti ini sejak pacaran. Dia sangat mendukung, kok.
Siap jadi the next Arief Suditomo atau Jason Tedjasukmana?
Mereka itu ikon dan orang-orang yang sangat sukses. Saya banyak terinspirasi pengalaman saat on air. Tentu saja saya ingin mengikuti jejak mereka. Tapi kalau sekarang, saya belum merasa ada tahap seperti itu. Mereka sudah jadi produser, pemred, mudah-mudahan saya bisa seperti mereka.
Target?
Setahun lagi jadi produser, hahaha. Kalau cita-cita, sih pengin punya TV sendiri. Tapi pada dasarnya saya let it flow, usahain yang terbaik. Kalau jadi produser syukur, mendesain acara sendiri pun nggak masalah. Di luar itu, saya ingin memanfaatkan background pendidikan saya, ya. Suatu saat sayapengin punya perusahaan sendiri.